Saturday, November 23, 2013

Bell's Palsy (Kelumpuhan Pada Setengah Bagian Wajah)

Apa Itu Bell's Palsy?

Bell's Palsy adalah penyakit yang menyerang

saraf wajah sehingga menyebabkan

kelumpuhan otot pada salah satu sisi wajah.

Terjadi disfungsi syaraf facialis yang

berkaitan dengan motorik wajah. Nama

penyakit ini diambil dari nama Sir Charles

Bell, dokter ahli bedah dari Skotlandia yang

pertama menemukan dan mempresentasikan

di Royal Society of London pada tahun 1829.

Ia menghubungkan kasus tersebut dengan

kelainan pada syaraf wajah. Meski namanya

unik, penyakit ini akan mengganggu secara

estetika ataupun fungsi wajah. Jika tidak

ditangani maka akan terjadi kecacatan

dengan muka miring atau penyok.

Gejala dan Komplikasi

Tanda-tanda Bell's Palsy adalah terjadi

asimetri pada wajah, rasa baal/kebas di

wajah, air mata tidak dapat dikontrol dan

sudut mata turun. Selain itu, terjadi

kehilangan reflex konjungtiva sehingga tidak

dapat menutup mata, rasa sakit pada telinga

terutama di bawah telinga, tidak tahan suara

keras pada sisi yang terkena, sudut mulut

turun,sulit untuk berbicara,air menetes saat

minum atau setelah membersihkan gigi, dan

kehilangan rasa di bagian depan lidah.

Pada kasus yang ringan proses penyembuhan

lebih cepat, sedangkan pada kasus yang lebih

berat dapat menyebabkan kerusakan

permanen serabut saraf.

Pasien Bell's Palsy yang sudah parah akan

mengalami perubahan bentuk wajah

menjadi penyok, bicara tidak jelas, fungsi

lidah terganggu terutama saat mengucapkan

huruf konsonan.

Apa Penyebabnya?

Kerusakan saraf facialis merupakan

penyebab Bell’s Palsy. Kerusakan ini tidak

diketahui dengan pasti mengapa, tetapi para

ahli meyakini infeksi virus Herpes simplek

sebagai penyebab utamanya, sehingga

terjadi proses radang dan pembengkaan

saraf. Selain itu, disebutkan juga virus

Herpes zoster yang sering menyerang wajah

tanpa disertai gejala yang jelas, dan virus

Epstein-Barr.

Gangguan otot wajah dapat pula disebabkan

oleh serangan stroke, infeksi, sakit getah

bening dan tumor.

Juga disebutkan penyebab Bell's Palsy karena

angin dingin yang masuk ke dalam tengkorak,

yang membuat syaraf di sekitar wajah

sembab lalu membesar.

Siapa yang Beresiko?

Kasus ini banyak terjadi pada musim dingin,

biasanya yang dialami laki-laki yang

tergolong usia dewasa. Kemungkinan hal ini

karena lelaki banyak beraktivitas/bekerja di

luar. Orang yang bekerja di ruangan ber AC

pun bisa terserang bila hawa dingin yang

ditimbulkan hanya terpusat pada satu

tempat.

Bell's Palsy sering pula terjadi pada

seseorang dengan sistem kekebalan yang

menurun seperti hamil, mengidap diabetes

atau sedang mengalami infeksi. Juga mereka

yang mempunyai keluarga dengan riwayat

pernah mengalami serangan penyakit ini.

Dalam kasus ini kemungkinan faktor genetik

ikut berperan.

Bagaimana Cara Mendiagnosis?

Belum ada tes laboratorium yang spesifik

untuk mendiagnosis. Biasanya dokter

mengambil kesimpulan dari kondisi wajah dan

gerakan otot wajah ketika memejamkan

mata, mengangkat alis, memperlihatkan gigi

dan mengerutkan dahi.

Pemeriksaan untuk memastikan diagnosa

adalah dengan.

1. Electromyography (EMG)

Pemeriksaan ini mengukur kegiatan listrik otot

sewaktu merespon rangsangan yang dilakukan

terhadapnya dan dapat menunjukkan

seberapa banyak kerusakan saraf yang

terjadi, serta dapat memastikan separah

mana penyakit tersebut.

2. Imaging scans

Sebuah pemeriksaan dengan sinar rongen

(X-ray), magnetic resonance imaging ( MRI ),

atau computerized tomography (CT ) yang

lebih dapat memastikan penyebab gangguan

syaraf itu, bukan karena infeksi, tumor atau

kerusakan tulang pada wajah.

Bagaimana Terapinya?

Terapi medikamentosa efektif utk

mempercepat proses penyembuhan, apalagi

jika pemberiannya sedini mungkin. Hal

penting dalam optimalisasi terapi adalah

“Latihan Wajah”. Yang perlu diperhatikan

juga adalah “Mata”. Kelopak mata yang

tidak dapat menutup sempurna akan

menimbulkan masalah baru berupa iritasi dan

infeksi mata. Jika tidak dilakukan perhatian

khusus. Hal yang dapat dilakukan adalah

pemberian air mata buatan, mengedipkan

mata secara manual, penggunaan pemberat

kelopak mata sampai tindakan operatif.

Evaluasi

Evaluasi terhadap derajat kerusakan saraf

dapat dilakukan setelah melewati fase akut

dengan menggunakan pemeriksaan EMG pada

minggu kedua dengan memeriksa reflex kedip

(blink reflex), sehingga dapat untuk

memprediksi prognosa penyakit.

Umumnya penderita Bell's Palsy dapat pulih

ke kondisi semula dengan ataupun tanpa

pengobatan khusus. Namun dokter akan

memberikan saran obat atau pengobatan fisik

yang dapat membantu mempercepat proses

penyembuhan. Jarang dilakukan pembedahan

pada Bell's Palsy.

Latihan Wajah

Latihan dilakukan minimal 2 – 3 kali sehari.

Kualitas latihan lebih utama daripada

kuantitasnya, untuk itu lakukan sebaik

mungkin.

Pada fase akut dapat dimulai dengan

kompres hangat dan pemijatan pada wajah

untuk meningkatkan aliran darah pada otot-

otot wajah.

Lanjutkan dengan gerakan-gerakan wajah

tertentu yang dapat merangsang otak untuk

tetap memberi sinyal untuk menggerakkan

otot-otot wajah.

Lakukan latihan di depan cermin.

Gerakan yang dilakukan berupa:

- Tersenyum

- Mencucurkan mulut kemudian bersiul

- Mengatupkan bibir

- Mengerutkan hidung

- Mengerutkan dahi

- Menarik sudut mulut secara manual dengan

telunjuk dan ibu jari

- Mengangkat alis secara manual dengan

keempat jari panjang (selain ibu jari)

- Menutup mata.
Share:

0 comments:

Post a Comment